Ide-ide Kreatif
OPINI | 24 October 2009 | 06:06
Bagi rekan-rekan Kompasianer seusia saya mungkin masih ingat serial TV MacGyver yang sangat populer di akhir tahun 1980an. Sang tokoh utama, MacGyver, terkenal dengan “ide-ide kreatifnya” buat mengatasi berbagai macam persoalan yang dihadapi dalam rangka tugasnya. Kreativitas tersebut ditunjukkan dengan memanfaatkan benda sehari-hari yang terdapat di sekitarnya, termasuk kita ia membuat bom. MacGyver tentu saja kisah fiktif, tetapi suguhan tayangan kreativitasnya barangkali yang bisa kita terapkan didalam kehidupan pribadi maupun di bisnis kita.“Kreativitas adalah proses untuk menghasilkan asosiasi baru antara dua atau lebih konsep yang berbeda untuk melahirkan konsep baru yang belum ada sebelumnya.” Begitu yang saya catat semalam dari presentasi anak muda kreatif seperti Panji, yang juga menyuarakan Indonesia Unite dalam acara Ultah Kompasiana di Marios Place, semalam (22/10/09).
Kisahnya bermula dari hasratnya menulis yang disalurkannya lewat weblog, sampai bagaimana ia memulai tehnik pemasaran rekaman indie-nya yang dikerjakan sendiri, yang konon cukup meledak lewat twitter, myspace dan jejaring sosial lainnya, maupun blog pribadinya. Salah satu ide kreatif yang dilakukannya adalah, ia membuat pesan-pesan yang berbeda dari setiap pembeli albumnya, yang kata-katanya di-adopt dari Fortune Cokies. Kata kuncinya, .. “Perubahan”. Betul, .. eh setuju Panji, .. Albert Einstein juga pernah bilang, .. “Semua yang ada di dunia ini berubah, kecuali perubahan itu sendiri” .
Diamatinya, … banyak anak muda yang selalu menuntut, tapi koq sedikit sekali yang menciptakan.
Coba saja lihat di bunderan H.I, hampir setiap sa’at kita saksikan anak-anak muda yang menuntut ini-itu. Mengapa jarang sekali ditayangkan, anak-anak muda yang menciptakan ini-itu, atau barangkali ng’ga nge-trend kalau menciptakan ini-itu, yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan juga orang lain.
Ada contoh lain, yakni ketika NASA meluncurkan para astronotnya ke angkasa luar, mereka menemukan bahwa para astronotnya tidak bisa menggunakan pulpen karena tintanya tidak bisa mengalir ke bawah akibat kondisi gravitasi nol. Untuk mengatasi masalah tersebut, NASA menghabiskan waktu 10 tahunan dan dana sebesar USD 12 juta, buat meriset/menciptakan sebuah pulpen yang bisa berfungsi dalam gravitasi nol, untuk di segala jenis permukaan termasuk kristal dan pada segala kondisi temperatur. Tapi, apa yang dilakukan oleh Uni Soviet. Para kosmonot Uni Soviet menggunakan pensil untuk mengatasi hal tersebut, … gitu aja koq repot coy.
Kemudian ada lagi sebuah cerita dari salah satu perusahaan kosmetik terbesar di Jepang. Perusahaan ini menerima keluhan dari salah satu pelanggan yang membeli sebuah sabun, ia menemukan kotak sabun tersebut kosong melompong. Perusahaan segera mencari musababnya. Akhirnya, ditemukan sumber masalahnya, yaitu ada di jalur perakitan. Karena suatu alasan teknis, sebuah kotak kosong masuk ke jalur pengepakan tanpa terdeteksi. Pihak manajemen langsung meminta para insinyur memecahkan masalah tersebut. Mereka akhirnya menciptakan sebuah alat X-ray untuk melihat semua kotak sabun yang lewat. Alat ini harus dijaga oleh 2 orang yang tentu saja tidak efisien.
Ketika sebuah perusahaan kecil lainnya menghadapi masalah serupa, apa yang mereka lakukan?
Lagi-lagi mereka memakai solusi ala MacGyver. Alih-alih mendeteksi dengan alat secanggih X-ray, mereka menggunakan kipas angin besar yang diarahkan ke jalur perakitan. Angin dari kipas tersebut akan menghembuskan kotak kosong keluar dari jalur perakitan. Masalah selesai
Mereka lagi mikir apa ya ?Apa yang bisa kita petik dari kisah di atas? Kreativitas dan penyelesaian masalah ternyata tidak harus melibatkan kecanggihan dan dana yang besar. “Originalitas ide bisa ditemukan dengan berpikir sesederhana mungkin”. Kita memang sering masuk jebakan terlalu berfokus pada masalah dan bukan solusinya.
Seperti pada contoh di atas, ketika Panji melakukan tehnik pemasaran albumnya lewat hobby nge-blognya, yang di bumbui dengan pesan-pesan yang berbeda (fortune cokies) dari hasil browsing di internet. Juga, gimana NASA melakukan framing atas masalah buat “menemukan pulpen yang bisa berfungsi pada gravitasi nol. Padahal dengan mudah dan biaya yang murah kita bisa melihat, bahwa pensil sebagai alternatif yang layak diperhitungkan. Maupun, kipas angin besar buat melemparkan kardus-kardus kosong dari ban berjalan.
Selain masalah framing masalah yang terlalu sempit atau salah, kita juga sering terjebak dalam melihat benda melalui kaca mata “forms over functions”. Ketika kita melihat sebuah kotak kayu, secara otomatis kita mengasosiasikan benda tersebut sesuai dengan fungsi utamanya, yaitu sebagai tempat penyimpanan barang. Padahal kotak kayu tersebut bisa juga dipakai untuk berbagai fungsi, antara lain sebagai kursi, meja piknik, meja kantin yang tinggal dikasih taplak meja saja, atau meja keyboard buat nulis di Kompasiana, bahkan bisa juga dijadikan kanvas untuk melukis.
Berpikir kreatif, sepertinya mengharuskan kita menyadari apa frame yang akan kita pakai dalam menemukan solusi sebuah masalah. Bisa jadi juga, mengajak kita untuk melihat sesuatu dengan cara pandang atau seperti anak kecil melihat sesuatu. MacGyver (bukan tukang nasi) barangkali akan setuju dengan pernyataan tersebut.
Menurut para ahli, “seseorang yang kreatif bukanlah selalu harus orang-orang yang menemukan hal-hal baru, namun ia selalu melihat segala sesuatu dengan cara berbeda dan baru, … dan biasanya tidak dilihat ataupun dilirik oleh orang lain.”




0 komentar:
Posting Komentar