Pages

Kamis, 16 Februari 2012

MENCIPTAKAN IDE IDE KREATIFITAS


MENJADI KREATIF & PRODUKTIF

Menjadi kreatif dan produktif pastilah merupakan impian semua eksperimenter. Untuk mencapai prestasi tersebut, pastilah diperlukan usaha keras. Pada dasarnya, yang berhak menilai prestasi seorang eksperimenter adalah masyarakat. Masyarakat cenderung melihat frekuensi keberhasilan mewujudkan ide untuk menilai produktivitas seorang eksperimenter. Sedangkan untuk menilai kreativitas eksperimenter, masyarakat cenderung melihat orisinalitas dan manfaat dari ide-ide yang berhasil diwujudkannya.
Tahap pertama yang harus dilakukan seorang penulis atau seorang eksperimenter / peneliti adalah menemukan gagasan atau ide tentang apa yang hendak ditulis atau diteliti. Sampai saat ini, saya belum pernah mendengar kabar kalau ada penulis atau peneliti yang berani mengatakan bahwa menemukan ide kreatif merupakan perkara yang mudah. Demikian juga, belum ada resep cespleng yang dapat digunakan setiap orang untuk menemukan ide cemerlang. Pengalaman masing-masing penulis atau peneliti dalam menemukan ide sangatlah beragam dan unik. Oleh karena itu, sangatlah sulit untuk membuat generalisasi yang dapat dipakai oleh semua orang pada semua kasus. Namun demikian, masih terdapat beberapa kesamaan yang setidaknya dapat dijadikan referensi untuk kita semua.
Setelah menemukan ide, tahap selanjutnya adalah mewujudkan ide tersebut. Pekerjaan paling berat dan sulit harus dilakukan pada tahap ini. Oleh karena itu kegagalan juga sering terjadi pada tahap realisasi ini.
Menyadari pentingnya dua tahapan di atas, maka saya mencoba untuk berbagi pengalaman tentang hal tersebut. Pengalaman saya ini sifatnya personal dan unik sehingga sangat mungkin tidak bisa ditiru atau dialami oleh orang lain. Walaupun demikian, pengalaman tersebut setidaknyadapat dijadikan sebagai bahan pembanding atau referensi terutama bagi para eksperimenter pemula. Untuk memperkaya khasanah kita, saya juga mengundang Anda para neter untuk menuliskan di forum ini tentang pengalaman Anda sebagai eksperimenter.
KRITERIA KREATIF
Kreatif tidak sama dengan waton bedo ( asal berbeda ). Menurut pendapat saya, suatu ide dapat dikatakan kreatif jika ide tersebut BARU ( singkatan dari Bermanfaat, Asli, Realistis, dan Unggul ) :
1. Bermanfaat
Ide bernilai tinggi hanya jika berpotensi memberi manfaat bagi banyak orang atau masyarakat luas dalam mengatasi masalah yang mereka hadapi. Ide yang demikian, berpeluang besar untuk memberi keuntungan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat maupun penemunya.
2. Asli
Ide bernilai tinggi jika benar-benar asli ( orisinil ) bukan tiruan, curian atau jiplakan dari ide orang lain. Selain itu juga bukan merupakan duplikasi tanpa sengaja dari ide orang lain yang sudah lebih dulu diwujudkan dan atau dipublikasikan
3. Realistis
Ide sederhana yang relatif mudah diwujudkan sering kali jauh lebih berharga daripada ide muluk-muluk yang hanya merupakan otopia belaka.
4. Unggul
Ide baru juga bernilai tinggi hanya jika mempunyai keunggulan komparatif dibandingkan teknik yang sudah ada atau cara yang sudah biasa digunakan sebelumnya. Sebagai contoh : lebih murah, lebih praktis, lebih ringan, lebih hemat, lebih enak, lebih aman, dan segala kebaikan yang lainnya.
MENUMBUHKAN KREATIVITAS
Ide kreatif tidak jatuh begitu saja dari langit ketika orang lagi bengong seperti mendapat wangsit. Prinsipnya, barang siapa tidak menanam maka dia tidak akan memetik hasilnya. Bibit-bibit ide kreatif perlu ditanam, dipupuk, dan disirami dalam diri kita selama bertahun-tahun bahkan selama hidup. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk hal tersebut antara lain :
1. Banyak membaca
Pada prinsipnya, mencari ide bukanlah mencari sesuatu yang berada di luar diri kita. Mencari ide adalah mencari sesuatu yang sudah ada dalam pikiran kita. Dengan banyak membaca, kita mengisi pikiran dengan bahan-bahan berupa potongan-potongan informasi yang dapat dianalogikan seperti mengumpulkan potongan-potongan puzzel. Bila rangkaian potongan-potongan puzzel informasi tersebut telah lengkap atau setidaknya hampir lengkap, maka akan tampak sebuah gambar/bentuk yang memiliki makna cukup jelas yang dapat berupa ide kreatif. Adapun potongan-potongan puzzel yang belum ada, harus dilengkapi pada saat mewujudkan ide tersebut. Bacaan tidak harus berupa buku, tetapi bisa majalah, koran, atau artikel-artikel dan jurnal-jurnal penelitian di internet. Yang penting, isinya bermutu dan sesuai dengan kebutuhan dan minat kita. Semakin banyak informasi bermutu yang kita peroleh, berarti semakin banyak potongan puzzel yang kita kumpulkan. Hal itu berarti peluang untuk mendapatkan ide kreatif semakin besar. Selain itu juga sangat membantu upaya menghindari duplikasi ( secara tidak sengaja ) ide dari orang lain yang sudah diwujudkan dan atau dipublikasikan lebih dahulu.
2. Sering mengamati
Mengamati tidak sama dengan melihat. Mengamati adalah melihat dengan mata dan otak. Kebanyakan orang, kalau melihat sesuatu benda atau kejadian yang menarik akan berhenti pada melihat dan mengagumi saja. Seorang peneliti tidak hanya sampai di situ saja, tetapi kemudian berfikir bagaimana bisa, mengapa demikian, dan seterusnya. Latihan mengamati ini perlu dilakukan sebagai kebiasaan hidup dan bukan hanya dilakukan ketika hendak meneliti saja.
3. Sering berdiskusi
Berdiskusi dengan orang lain yang mempunyai minat, pengetahuan dan skill pada bidang yang sama dengan kita sangat diperlukan untuk memperdalam dan memperluas wawasan. Namun demikian, diperlukan juga diskusi dengan orang dengan minat, pengetahuan dan skill pada bidang yang lain agar kita memiliki pemahaman yang lebih komprehensif pada aspek-aspek yang melingkupi bidang yang kita minati. Format diskusi tidak perlu formal seperti seminar atau diskusi panel. Obrolan santai sambil minum kopi justru sering lebih efektif. Manfaat serupa juga dapat diperoleh dengan mengikuti dan berpartisipasi aktif dalam forum-forum diskusi di internet.
4. Mendengar keluhan, kritik dan saran
Kalau kita bisa mendengar dan menyaring keluhan, kritik, dan saran dari orang lain, tidak jarang terdapat cikal bakal ide cemerlang yang tanpa sengaja mereka sampaikan kepada kita.
5. Mengagumi dan menikmati alam
Sesekali menikmati keindahan alam seperti gunung, sungai, danau, hutan atau laut sering memberikan banyak inspirasi.
6. Berfikir tidak mengikuti mainstream
Perlu belajar untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang berbeda dengan yang dipikirkan dan dilakukan oleh kebanyakan orang. Namun tidak asal berbeda, tapi memiliki kelebihan dibandingkan dengan cara biasa. Menulis atau menikmati humor atau cerita lucu juga dapat membantu. Saya meyakini hal tersebut karena humor akan lucu kalau ada pembengkokan logika umum ( mainstream ) secara tiba-tiba dan tidak terduga.
7. Berdoa dan mohon petunjuk dari Sang Pencipta
Segala usaha manusia tidak akan ada hasilnya jika tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.
MENANGKAP IDE KREATIF
Seorang teman kuliah di Yogya berinisial HG yang beragama Budha dan berasal dari Kalbar pernah bercerita kepada saya tentang ilham. Kejadiannya kira-kira begini :
HG : “Jika ada seberkas cahaya yang melintas di langit di tengah lautan pada malam yang sunyi, seperti itulah ilham”.
Paijo : “Melintasnya apakah berkali-kali dan lama atau bagaimana ?”
HG : “Tidak, melintasnya sekali saja dan hanya sekejab mata”
Paijo : “Kalau seperti itu, bagaimana kita dapat menangkapnya ?”
HG : “Ya kita harus datang ke laut dan berjaga sepanjang malam karena kita tidak tahu cahaya tersebut melintas di langit sebelah mana dan waktunya kapan”
Paijo : “Cahaya tersebut melintas setiap malam atau hanya malam-malam tertentu saja ?“
HG : “Yang jelas tidak setiap malam, dan tidak bisa diketahui malam yang mana”
Kemudian saya menceritakan kepadanya tentang kejadian yang saya alami ketika mendapatkan ide bagus. Setelah itu HG berkomentar bahwa apa yang saya alami tersebut merupakan pengalaman langka yang dialami hanya oleh segelintir orang yang sangat beruntung saja. Menurutnya, saya merupakan salah seorang yang dikaruniai kepekaan dan kemampuan untuk menangkap ilham tersebut. Sejak hari itu sampai sekarang, cerita kiasan tersebut ternyata telah banyak menyadarkan dan mengubah diri saya. Betapa tidak, kiasan tersebut menggambarkan betapa sukarnya menangkap ide, tapi saya telah terbukti dapat melakukannya berulang kali tanpa sengaja. Sampai hari itu, saya sendiri juga tidak mengerti bagaimana saya melakukannya. Sepertinya, semua terjadi begitu saja secara kebetulan. Sejak saat itu, saya berrtekad untuk tidak akan menyianyiakan karunia tersebut yang telah diberikan Tuhan kepada saya.
Sebagai seorang eksperimenter yang selalu penasaran, saya mencoba mencari referensi-referensi ilmiah atas apa yang saya alami tersebut dan saya berhasil mendapatkannya. Ternyata, hasil penelitian membuktikan bahwa otak tidak pernah berhenti bekerja selama pemiliknya masih hidup walaupun sedang tidur ataupun pingsan. Setelah pemiliknya mati sekalipun ( mati klinis = nafas dan jantung berhenti ), otak tidak langsung ikut mati. Jadi dapat disimpulkan bahwa otak akan terus menerus mencerna informasi-informasi yang diterimanya tanpa kita sadari. Akibatnya, kita tidak bisa mengetahui dengan tepat, kapan suatu rangkaian informasi telah selesai diproses dan menghasilkan sebuah ide baru. Namun demikian, masih ada kemungkinan untuk mengenali semacam sinyal atau tanda ketika ide baru tersebut akan muncul. Pengalaman saya, menjelang ide baru muncul biasanya ditandai dengan rasa gelisah dan keteganan ( stress ) yang meningkat tanpa sebab yang jelas. Kegelisahan atau ketegangan akan hilang dengan sendirinya ketika ide sudah muncul.
Yang sering menjadi masalah adalah waktu dan tempat munculnya ide yang tidak pernah dapat diduga-duga persis seperti dalam kiasannya. Waktunya bisa pagi, siang, sore, maupun malam. Boro-boro mau tau jamnya, bulan atau tahunnya saja tidak bisa diramalkan. Kadangkala selama bertahun-tahun tidak ada ide melintas, kadangkala dalam sebulan ada beberapa ide yang melintas. Sedangkan tempatnya bisa di dapur, kamar tidur, kamar mandi, kantor, pasar, bahkan di perjalanan. Singkatnya, kita tidak bisa memilih waktu dan tempatnya. Selain itu, durasinya sangat singkat dan tidak sepenuhnya dalam kontrol kesadaran kita ( mirip mimpi atau lamunan singkat ) sehingga cepat sekali hilang dari pikiran ( lupa total ) kalau terlambat sedikit saja untuk menyadari dan menangkap ide pokoknya. Perkiraan saya, kejadiaannya berlangsung sangat cepat dalam waktu kurang dari sepersepuluh detik. Hal tersebut seringkali membuat saya gagal menangkap ide yang muncul dan harus rela kehilangan ide tersebut mungkin untuk selamanya. Paling tidak, sampai saat ini saya belum pernah mengalami kemunculan ulang untuk ide yang pernah gagal ditangkap sebelumnya. Namun demikian, ada kemungkinan ide yang sama pernah muncul kembali dalam bentuk dan pengalaman yang berbeda dengan sebelumnya tanpa saya sadari. Segera setelah terjadi kegagalan seperti itu, saya sadar sepenuhnya bahwa barusan ada ide bagus yang melintas tapi tidak dapat mengingat sama sekali ide apa atau bahkan tentang apa. Benar-benar lupa total tentang apa yang barusan melintas di pikiran, ingat sepotongpun tidak. Karena penasaran, saya pernah beberapa kali mencoba memaksakan diri untuk mengingat-ingat yang melintas tersebut seharian selama beberapa hari, hasilnya juga nihil. Untuk menghindari kegagalan dalam menangkap ide berikutnya, biasanya saya berusaha untuk lebih waspada pada saat ada tanda-tanda akan munculnya ide. Pada saat ide tersebut muncul, biasanya berwujud seperti suara atau bayangan benda yang berkelebat sekilas di pikiran ketika sedang berfikir atau ketika sedang melakukan aktifitas sehari-hari. Untuk menangkapnya, saya lalu segera menghentikan segala aktifitas dan kemudian berfikir keras sejenak tentang apa yang barusan melintas di pikiran sampai ide tersebut tertangkap secara utuh. Untuk menghindari kelupaan, biasanya saya langsung membuat catatan atau sketsa di buku penuangan ide. Jika sedang tidak berada di rumah, saya biasanya menggunakan kertas seadanya. Jika kebetulan tidak ada sesuatupun untuk mencatat, saya visualisasikan di pikiran saya dalam waktu cukup lama dan berulang-ulang sampai saya yakin dapat mengingatnya sampai ada kesempatan untuk mencatat atau membuat sketsanya. Setelah ada waktu luang, barulah catatan atau sketsa yang saya buat tersebut dibuka kembali untuk difikirkan dan diuraikan secara lebih mendetail menjadi suatu desain. Tidak jarang terjadi bahwa ide yang sudah dicatat atau dibuat sketsanya, saya biarkan mengendap dan baru kemudian ditindaklanjuti dan diwujudkan bertahun-tahun kemudian karena ada kesenjangan yang lebar antara ide yang ada dengan kemampuan teknis yang saya kuasai. Meskipun demikian, ide tersebut tidaklah sia-sia karena jika tidak sempat saya wujudkan, masih dapat diwariskan kepada generasi penerus saya untuk diwujudkan. Jika suatu ketika ada orang lain yang lebih dahulu berhasil mewujudkan ide yang kebetulan sama dengan ide saya, maka saya memberi tanda pada catatan atau sketsa ide tersebut untuk menghindari duplikasi.
Untuk memberikan gambaran yang lebih nyata, saya akan ceritakan beberapa kejadian yang saya alami dalam menangkap ide yang saya masih bisa mengingat detail kejadiannya :
1. Kincir tongkat jungkat-jungkit ( sekitar tahun 1976 )
Idenya muncul pada siang hari ketika saya menjaga padi di sawah sambil bermain-main dengan sebuah tongkat penggembala itik yang terbuat dari bambu. Yang melintas berupa bayangan berbentuk bambu runcing, jungkat-jungkit dan pancuran. Ide tersebut sudah terwujud dan sampai sekarang sudah mengalami 2 kali penyempurnaan.
2. Booster mesin ( sekitar tahun 1983 )
Idenya muncul ketika saya naik bis dari Muntilan ke Magelang, persisnya di depan Rumah Makan Cindelaras sebelum jembatan kali Belan. Yang melintas berupa bayangan sebuah pompa yang menghubungkan karburator dengan mesin mobil. Beberapa bulan kemudian, saya baru menyadari bahwa sudah ada orang lain yang lebih dahulu menemukan yang disebut dengan tubin booster ( turbo ). Bedanya, ide saya menggunakan piston dan bukan turbin. Selain itu, variabel yang mengatur kerja booster bukan tekanan gas buang melainkan beban torsi dan RPM pada poros mesin. Ide tersebut saya petieskan karena merupakan duplikasi dari ide orang lain yang sudah lebih dahulu diwujudkan dan dipatentkan.
3. Jemuran Pintar ( sekitar tahun 1984 )
Idenya muncul malam hari ketika duduk di teras. Yang melintas berupa bayangan rel gorden yang digantungi hanger dan baju. Ide tersebut baru ditindaklanjuti dan terwujud 21 tahun kemudian dan berhasil menjadi finalis peringkat 1 lomba LED 2005 tingkat nasional yang diselenggarakan oleh jurusan Teknik Elektro dan Informatika ITB.
4. Kolektor sinarmatahari sistim cluster dengan autotracking ( sekitar tahun 1995 )
Idenya muncul malam hari ketika sedang membuat gambar lingkaran menggunakan jangka. Yang melintas berupa bayangan antena parabola yang ditempelkan pada pegangan jangka. Ide tersebut rencananya akan saya buat prototypenya sekitar 2-3 tahun yang akan datang.
5. Program komputer ( sekitar tahun 2000 )
Masalah pemrograman yang sudah buntu selama lebih dari 1 minggu padahal dikejar deadline. Ide solusinya muncul ketika di perjalanan pulang dari tempat kerja. Yang melintas berupa bayangan tulisan / rumus dan suara mengeja tulisan tersebut. Teman sekantor yang saya bonceng sempat bingung ketika saya tiba-tiba menghentikan motor di pinggir jalan dekat lapangan golf. Mulai hari kerja berikutnya, pemrograman lancar berkat menggunakan ide tersebut.
6. Mesin Paijo generasi ke-2 ( Jumat, 28 Juli 2006 )
Merupakan penyempurnaan dari percobaan pertama yang belum berhasil dan tidak ada perkembangan selama lebih dari 5 tahun. Idenya muncul pada pagi hari ( sekitar jam 06.15 ) ketika sedang mandi. Yang melintas berupa bayangan prototype mesin pertama, pompa hidram dan ekor kucing silih berganti. Ide tersebut sedang dalam tahap pembuatan prototype ( sudah selesai sekitar 75 % ). Cerita lengkap kejadiannya ada di halaman MESIN STX-2.
7. Sepeda bermesin ( Okt 2006 )
Idenya aneh karena mesinnya tidak memutar roda atau baling-baling, bahkan tanpa rotor sama sekali. Idenya muncul malam hari ketika sedang cerita dengan anak saya tentang sepeda. Yang melintas berupa bayangan meriam bambu yang dipanggul seperti memanggul bazoka. Yang unik, desain mesin sepeda yang dimaksud ternyata tidak berhubungan dengan bentuk maupun cara kerja meriam bambu, melainkan modifikasi dari Mesin Paijo generasi ke-2 tersebut di atas. Prototype akan dibuat segera sesudah proyek Mesin Paijo selesai.
MERALISASIKAN IDE
Setelah ide kreatif berhasil ditangkap, pekerjaan belum selesai. Pekerjaan besar justru baru dimulai setelah adanya ide kreatif tersebut. Thomas A. Edison mengatakan :”Jenius adalah 1 % inspirasi dan 99 % keringat. Tidak ada yang dapat menggantikan kerja keras. Keberuntungan adalah sesuatu yang terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan”. Ibarat orang berjalan, mempunyai ide kreatif barulah merupakan langkah pertama dan masih ada 99 langkah selanjutnya yang harus dijalani jika mau sukses. Namun demikian, ide kreatif sangatlah penting karena tidak mungkin ada langkah ke-2 sampai langkah ke-100 jika tidak ada langkah pertama.
Untuk mewujudkan sebuah ide kreatif, perlu usaha keras pantang menyerah. Terutama untuk ide yang rumit, canggih, dan perlu biaya banyak. Adapun kiat-kiat yang dapat dilakukan untuk melancarkan pekerjaan berat tersebut antara lain :
1. Membentuk team kerja
Untuk ide yang sederhana, dapat dikerjakan sendiri tanpa banyak hambatan. Sedangkan untuk ide yang rumit, canggih, dan perlu biaya besar, lebih bijaksana kalau dikerjakan oleh team. Prinsipnya musti win-win solution. Pembagian tugas selayaknya disertai dengan pembagian hasil yang adil. Jika perlu, gunakan konsultan ahli untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah yang berada di luar kemampuan team. Pengetahuan dan ketrampilan dari masing-masing anggota team hendaknya beraneka macam sehingga saling melengkapi satu sama lain.
2. Membuat rencana kerja
Rencana kerja yang detail dan jelas akan membantu meningkatkan efektifitas dan efisiensi waktu dan sumber daya yang ada. Peran flowchart dan time table sangat membantu untuk menentukan alur tercepat jika ada beberapa pekerjaan yang dapat dilakukan secara simultan.
3. Mencari dana
Tanpa dana yang cukup, pekerjaan tidak mungkin dapat dilakukan. Dana dapat bersumber dari kantong sendiri atau dari donatur ( sponsor ). Untuk meyakinkan donatur atau sponsor, musti ada dulu team kerja yang solid dan rencana kerja yang baik. Tanpa itu, tidak mungkin ada donatur atu sponsor yang bersedia mengucurkan dananya. Jika dana bersumber dari donatur atau sponsor, perlu diperhatikan perjanjian bagi hasil dan resiko yang adil dan transparan kecuali dana hibah. Hal itu untuk menghindari sengketa di kemudian hari.
4. Kerja keras
Supaya sukses, kita perlu kerja keras dengan mengerahkan segenap kemampuan secara 100 %. Jika tidak, maka kegagalan sudah menghadang di depan mata. Bagian ini sangat berat karena belum ada seorangpun yang berpengalaman membuat alat atau benda yang sedang kita kerjakan. Justru kitalah orang pertama yang akan memiliki pengalaman tersebut.
5. Menjaga semangat kerja
Menjaga agar tetap semangat dalam menghadapi berbagai kesulitan sangatlah penting. Sebelum dan selama bekerja, perlu ditanamkan keyakinan bahwa ide tersebut mungkin untuk diwujudkan. Harapan untuk memperoleh keuntungan ekonomi jika proyek berhasil bukanlah hal yang tabu dan terbukti cukup kuat mempertahankan semangat kerja. Namun yang paling kuat adalah jika kita bisa menikmati pekerjaan tersebut tanpa memikirkan untung ruginya. Pesta kecil untuk merayakan keberhasilan ujicoba komponen atau bagian alat juga dapat membantu memelihara semangat kerja.
6. Evaluasi dan pengujian
Setelah melewati tahap-tahap tertentu yang sudah direncanakan, musti dilakukan evalusi proses dan hasil kerja untuk peningkatan mutu proses pada tahap berikutnya. Pengujian komponen alat juga harus dilakukan secara bertahap begitu komponen tersebut selesai. Dengan cara ini, kegagalan yang tidak perlu dan konyol dapat dicegah.
7. Mengasah gergaji
Ini adalah kiasan untuk sentiasa mempertajam pengetahuan dan ketrampilan untuk menjembatani kesenjangan antara pengetahuan dan ketrampilan teknis yang kita kuasai dibandingkan dengan tingkat kecanggihan dan kompleksitas ide kreatif yang akan diwujudkan. Untuk melakukannya perlu usaha keras selama bertahun tahun terutama jika kesenjangannya cukup jauh. Pembentukan team kerja dan penggunaan konsultan dapat membantu mengatasi kesenjangan yang takterjembatani namun perlu tambahan biaya.
Mengasah gergaji tersebut bukan baru dilakukan setelah ada ide, melainkan dilakukan terus-menerus untuk sebanyak mungkin bidang kerja yang sering melingkupi masalah-masalah yang kita minati untuk diteliti. Sebagai contoh, untuk eksperimenter teknologi tepat guna seperti saya, sebaiknya mempelajari mekanika, termofisika, termodinamika, elektronika, listrik dasar, logika, kimia dasar, ekonomi, komputer, gambar teknik, dsb. Jika tidak bisa menguasai sampai mendetail, setidaknya dasar-dasarnya. Adapun ketrampilan yang perlu dikuasai adalah semua skill yang berhubungan dengan pekerjaan kayu, logam, dan bangunan. Jika tidak bisa sampai mahir, setidaknya terampil.
Demikian pengalaman yang dapat saya bagikan kepada para neter dan semoga bermanfaat.
ang dimuat oleh mas paijo,,,banyak kesamaan yang telah saya alami untuk mendapatkan ide-ide kreatif khususnya di dunia desian produk,,

Jumat, 05 Agustus 2011

Ide-ide Kreatif menuju Inovasi Bisnis

29 Mei 2009 | Dibaca : 7664 kali | 0 Komentar | Kategori: Entrepreneurship

Banyak yang menyamakan antara inovasi dan kreativitas. Padahal kedua istilah tersebut memiliki perbedaan penting.
Kreativitas adalah proses untuk menghasilkan asosiasi baru antara dua atau lebih konsep yang berbeda untuk melahirkan konsep baru yang belum ada sebelumnya.
Sementara inovasi adalah menghidupkan ide baru. Ide tersebut bisa dihasilkan dari ide-ide kreatif seperti contoh di atas, atau melalui penjelajahan pada nexus ilmu pengetahuan.
Bagi para pembaca seusia saya mungkin masih ingat serial TV MacGyver yang sangat populer di akhir tahun 1980an. Sang tokoh utama, MacGyver, terkenal dengan kecerdasan dan ide-ide kreatifnya untuk menyelesaikan masalah — mulai dari masalah sehari-hari sampai masalah yang berkaitan dengan keselamatan jiwa. Kreativitas tersebut ditunjukkan dengan menemukan solusi dari benda sehari-hari yang terdapat di sekitar kita, termasuk untuk membuat bom.
MacGyver tentu saja kisah fiktif, tetapi prinsip kreativitasnya tentu bisa kita terapkan di kehidupan pribadi dan bisnis kita. Sebagai contoh, ketika NASA meluncurkan para astronotnya ke angkasa luar, mereka menemukan bahwa para astronot tersebut tidak bisa memakai pulpen karena tintanya tidak bisa mengalir ke bawah akibat kondisi gravitasi nol. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, NASA menghabiskan waktu 10 tahunan dan USD 12 juta. Mereka mengembangkan sebuah pulpen yang bisa berfungsi dalam gravitasi nol, atas bawah, di bawah laut, di segala jenis permukaan termasuk kristal dan pada segala kondisi temperatur dari titik beku sampai titik didih air. Apa yang akan dilakukan MacGyver? Dia pasti akan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Uni Soviet. Para kosmonot Uni Soviet menggunakan pensil.
Kemudian ada lagi sebuah cerita dari salah satu perusahaan kosmetik terbesar di Jepang. Perusahaan ini menerima keluhan dari salah satu pelanggan yang membeli sebuah sabun, tetapi menemukan kotak sabun tersebut kosong melompong. Karena kualitas merupakan masalah penting di Jepang, perusahaan segera mencara sebab musababnya. Akhirnya, sumber masalah ditemukan di jalur perakitan. Karena sesuatu alasan, sebuah kotak kosong masuk ke jalur tersebut tanpa terdeteksi. Pihak manajemen langsung meminta para insinyur memecahkan masalah tersebut. Mereka akhirnya menciptakan sebuah alat X-ray untuk melihat semua kotak sabun yang lewat. Alat ini harus dijaga oleh 2 orang yang tentu saja tidak efisien.
Ketika sebuah perusahaan kecil lainnya menghadapi masalah serupa, apa yang mereka lakukan?

Lagi-lagi mereka memakai solusi ala MacGyver. Alih-alih mendeteksi dengan alat secanggih X-ray, mereka menggunakan kipas angin besar yang diarahkan ke jalur perakitan. Angin dari kipas tersebut akan menghembuskan kotak kosong keluar dari jalur perakitan. Masalah selesai.
Apa yang bisa kita pelajari dari kedua kisah di atas? Kreativitas dan penyelesaian masalah ternyata tidak harus melibatkan kecanggihan dan dana yang besar. "Originalitas ide bisa ditemukan dengan berpikir sesederhana mungkin". Kita memang sering masuk jebakan terlalu berfokus pada masalah dan bukan solusinya. Seperti pada contoh di atas, ketika NASA melakukan framing atas masalah sebagai "menemukan pulpen yang bisa berfungsi pada gravitasi nol," frame tersebut menyingkirkan alternatif solusi yang tidak melibatkan pulpen. Padahal bila masalah tersebut di-framing ulang sebagai "menemukan alat untuk menulis pada kondisi gravitasi nol," dengan mudah kita bisa melihat pensil sebagai alternatif yang layak.
Selain masalah framing masalah yang terlalu sempit atau salah, kita juga sering terjebak dalam melihat benda melalui kaca mata "forms over functions". Ketika kita melihat sebuah kotak kayu, secara otomatis kita mengasosiasikan benda tersebut sesuai dengan fungsi utamanya, yaitu sebagai tempat penyimpanan barang. Padahal kotak kayu tersebut bisa dipakai untuk berbagai fungsi, antara lain sebagai pengganjal pintu, kursi, tangga, pendobrak pintu, meja piknik, meja kantin di Kantin Rasamala atau tempat persembunyian, bahkan bisa juga dijadikan kanvas untuk melukis.
Berpikir kreatif, ... karena itu, mengharuskan kita menyadari frame yang kita pakai dalam menilai sebuah masalah dan melihat sesuatu dengan mata anak kecil. MacGyver (bukan tukang nasi) pasti akan setuju dengan pernyataan tersebut.

ide_ide kreatifitas

Ide-ide Kreatif

OPINI | 24 October 2009 | 06:06 1270 13 2 dari 2 Kompasianer menilai Inspiratif
Bagi rekan-rekan Kompasianer seusia saya mungkin masih ingat serial TV MacGyver yang sangat populer di akhir tahun 1980an. Sang tokoh utama, MacGyver, terkenal dengan “ide-ide kreatifnya” buat mengatasi berbagai macam persoalan yang dihadapi dalam rangka tugasnya. Kreativitas tersebut ditunjukkan dengan memanfaatkan benda sehari-hari yang terdapat di sekitarnya, termasuk kita ia membuat bom. MacGyver tentu saja kisah fiktif, tetapi suguhan tayangan kreativitasnya barangkali yang bisa kita terapkan didalam kehidupan pribadi maupun di bisnis kita.
“Kreativitas adalah proses untuk menghasilkan asosiasi baru antara dua atau lebih konsep yang berbeda untuk melahirkan konsep baru yang belum ada sebelumnya.” Begitu yang saya catat semalam dari presentasi anak muda kreatif seperti Panji, yang juga menyuarakan Indonesia Unite dalam acara Ultah Kompasiana di Marios Place, semalam (22/10/09).
Kisahnya bermula dari hasratnya menulis yang disalurkannya lewat weblog, sampai bagaimana ia memulai tehnik pemasaran rekaman indie-nya yang dikerjakan sendiri, yang konon cukup meledak lewat twitter, myspace dan jejaring sosial lainnya, maupun blog pribadinya. Salah satu ide kreatif yang dilakukannya adalah, ia membuat pesan-pesan yang berbeda dari setiap pembeli albumnya, yang kata-katanya di-adopt dari Fortune Cokies. Kata kuncinya, .. “Perubahan”. Betul, .. eh setuju Panji, .. Albert Einstein juga pernah bilang, .. “Semua yang ada di dunia ini berubah, kecuali perubahan itu sendiri” .
Diamatinya, … banyak anak muda yang selalu menuntut, tapi koq sedikit sekali yang menciptakan.
Coba saja lihat di bunderan H.I, hampir setiap sa’at kita saksikan anak-anak muda yang menuntut ini-itu. Mengapa jarang sekali ditayangkan, anak-anak muda yang menciptakan ini-itu, atau barangkali ng’ga nge-trend kalau menciptakan ini-itu, yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan juga orang lain.
Ada contoh lain, yakni ketika NASA meluncurkan para astronotnya ke angkasa luar, mereka menemukan bahwa para astronotnya tidak bisa menggunakan pulpen karena tintanya tidak bisa mengalir ke bawah akibat kondisi gravitasi nol. Untuk mengatasi masalah tersebut, NASA menghabiskan waktu 10 tahunan dan dana sebesar USD 12 juta, buat meriset/menciptakan sebuah pulpen yang bisa berfungsi dalam gravitasi nol, untuk di segala jenis permukaan termasuk kristal dan pada segala kondisi temperatur. Tapi, apa yang dilakukan oleh Uni Soviet. Para kosmonot Uni Soviet menggunakan pensil untuk mengatasi hal tersebut, … gitu aja koq repot coy.
Kemudian ada lagi sebuah cerita dari salah satu perusahaan kosmetik terbesar di Jepang. Perusahaan ini menerima keluhan dari salah satu pelanggan yang membeli sebuah sabun, ia menemukan kotak sabun tersebut kosong melompong. Perusahaan segera mencari musababnya. Akhirnya, ditemukan sumber masalahnya, yaitu ada di jalur perakitan. Karena suatu alasan teknis, sebuah kotak kosong masuk ke jalur pengepakan tanpa terdeteksi. Pihak manajemen langsung meminta para insinyur memecahkan masalah tersebut. Mereka akhirnya menciptakan sebuah alat X-ray untuk melihat semua kotak sabun yang lewat. Alat ini harus dijaga oleh 2 orang yang tentu saja tidak efisien.
Ketika sebuah perusahaan kecil lainnya menghadapi masalah serupa, apa yang mereka lakukan?
Lagi-lagi mereka memakai solusi ala MacGyver. Alih-alih mendeteksi dengan alat secanggih X-ray, mereka menggunakan kipas angin besar yang diarahkan ke jalur perakitan. Angin dari kipas tersebut akan menghembuskan kotak kosong keluar dari jalur perakitan. Masalah selesai
Mereka lagi mikir apa ya ?
Apa yang bisa kita petik dari kisah di atas? Kreativitas dan penyelesaian masalah ternyata tidak harus melibatkan kecanggihan dan dana yang besar. “Originalitas ide bisa ditemukan dengan berpikir sesederhana mungkin”. Kita memang sering masuk jebakan terlalu berfokus pada masalah dan bukan solusinya.
Seperti pada contoh di atas, ketika Panji melakukan tehnik pemasaran albumnya lewat hobby nge-blognya, yang di bumbui dengan pesan-pesan yang berbeda (fortune cokies) dari hasil browsing di internet. Juga, gimana NASA melakukan framing atas masalah buat “menemukan pulpen yang bisa berfungsi pada gravitasi nol. Padahal dengan mudah dan biaya yang murah kita bisa melihat, bahwa pensil sebagai alternatif yang layak diperhitungkan. Maupun, kipas angin besar buat melemparkan kardus-kardus kosong dari ban berjalan.
Selain masalah framing masalah yang terlalu sempit atau salah, kita juga sering terjebak dalam melihat benda melalui kaca mata “forms over functions”. Ketika kita melihat sebuah kotak kayu, secara otomatis kita mengasosiasikan benda tersebut sesuai dengan fungsi utamanya, yaitu sebagai tempat penyimpanan barang. Padahal kotak kayu tersebut bisa juga  dipakai untuk berbagai fungsi, antara lain sebagai kursi, meja piknik, meja kantin yang tinggal dikasih taplak meja saja, atau meja keyboard buat nulis di Kompasiana, bahkan bisa juga dijadikan kanvas untuk melukis.
Berpikir kreatif, sepertinya mengharuskan kita menyadari apa frame yang akan kita pakai dalam menemukan solusi sebuah masalah. Bisa jadi juga, mengajak kita untuk melihat sesuatu dengan cara pandang atau seperti anak kecil melihat sesuatu. MacGyver (bukan tukang nasi) barangkali akan setuju dengan pernyataan tersebut.
Menurut para ahli, “seseorang yang kreatif bukanlah selalu harus orang-orang yang menemukan hal-hal baru, namun ia selalu melihat segala sesuatu dengan cara berbeda dan baru, … dan biasanya tidak dilihat ataupun dilirik oleh orang lain.”

Minggu, 03 Juli 2011

ide_ide kreatifitas

ide kreatife di mulai dari cara seseorang menemukan suatu hal apapun yg baru dan tidak sama dg orang laen dalam arti kata mengkopy ide ide orang laen ...
understand ......